Copyright 2017 - Bimbelline

Ramadhan Terakhir

Ramadhan hampir tiba, umat Islam di berbagai belahan dunia bersiap menyambutnya. Pengurus masjid mulai berbenah, menyusun kepanitiaan agar para jamaah yang sebentar lagi memadatinya bisa nyaman beribadah. Lingkungan masjid di bersihkan, bahkan ada yang mengganti warna catnya. Gelaran tikar di tambah, tidak jarang sampai ke halaman atau terpaksa menutup jalan.

Acara sepanjang bulan itu dikemas dengan begitu serius. Buka bersama, TPA musiman, tadarusan, sampai mendatangkan mubaligh terkenal hanya untuk mengisi khultum.

Semuanya berharap sama, diampuni dosanya setelah sebulan penuh menahan lapar dan mengurangi tidur. Ramadhan memang istimewa. Ia ibarat tamu agung yang sangat dinantikan kedatangannya. Namun sayangnya masih ada di antara umat Islam yang acuh tak acuh. Tidak ada perhatiannya sama sekali terhadap bulan suci ini. Mereka tidak peduli, bahkan hatinya tidak begitu suka. Karena ada banyak perkara kegemarannya yang harus terhenti.

Tak kenal maka tak sayang, begitu kata orang. Tidak sukanya sebagian orang terhadap datangnya bulan Ramadhan memang lantaran mereka belum mengerti betapa besarnya Allah mencurahnya rahmatnya di bulan ini, pintu taubat dibuka selebar-lebarnya untuk melebur dosa, dan peluang amal bisa didatangi dari arah mana saja, belum lagi pahalanya yang dilipat gandakan. Nabi saw bersabda:

 أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan penuh berkah dimana Allah telah mewajibkan kepada kalian berpuasa. Selama bulan ini, pintu langit (rahmat) dibuka dan pintu jahanam ditutup, medan peperangan setan ditutup karena Allah. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa dijauhkan dari kebaikan pada bulan ini, sungguh (di bulan lain) dia lebih dijauhkan lagi.

Bagi mereka yang tidak mengenal bulan mubarak ini, rata-rata dalam benaknya adalah bayangan kerepotan menyiapkan makan sahur padahal mata masih ingin terpejam, menahan perut yang keroncongan seharian penuh, terpaksa berdiri lama dengan kaki letih setelah shalat Isya’, sampai terpaksa mendengarkan ceramah yang trekadang membuat panas telinga, atau datangnya utusan masjid serta yayasan sosial yang mengajukan proposal bantuan.

Menurut Syaikh Muhammad bin Rasyid Abdullah Al-Ghufaili, pengarang kitab Min Akhtâinâ fî Ramadhân, kesalahan pertama dan terutama yang sangat berpengaruh pada diri kaum muslimin adalah ketidak-pedulian mereka dengan datangnya bulan Ramadhan. Bagi orang awam — kecuali yang disayangi Allah Ta‘ala — yang tidak mengetahui keutamaan bulan Ramadhan, mereka menyambutnya biasa saja sebagaimana menyambut bulan-bulan lainnya. Kegembiraan atas terbukanya banyak peluang ibadah tidak berubah. Semangat menambah amalan di kesempatan yang tidak selalu ada ini juga nihil. Bahkan sekedar ikut-ikutan meramaikan masjid pun tidak dilakukan.

Kalau sudah begini keadaannya, menjadi tugas para dai, khatib, mubaligh, ustadz, kiyai, atau siapa saja yang mampu untuk selalu mengingatkan umatnya tentang keutamaan bulan Ramadhan. Termasuk mengangkat kisah bagaimana para salaf sangat menjaga diri dari perbuatan maksiat sepanjang bulan lainnya sehingga mereka mampu mengisi bulan yang hanya datang setahun sekali ini dengan penuh semangat. Bagaimana pun juga maksiat akan menghilangkan kemampuan raga untuk melakukan ketaatan. Imam Fudhail bin Iyadh berkata:

 إِذَا لَمْ تَقْدِرْ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ وَصِيَامِ النَّهَارِ فَاعْلَمْ أَنَّكَ مَحْرُوْمٌ مُكَبَّلٌ كَبَّلَتْكَ خَطِيْئَتُكَ.

Jika kamu tidak mampu melaksanakan shalat di malam hari dan berpuasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa kamu terbelenggu oleh kemaksiatanmu sendiri. (Shifat Ash-Shafwah 2/238)

Pengetahuan yang mendalam tentang hal ini, apalagi jika sering mendengarnya, akan menghunjam di dalam hati. Keimanan akan tumbuh dengan sendirinya lalu timbullah keinginan untuk meraih keutamaan bulan ini sebagaimana berita dari Nabi saw. Raga boleh renta, kekuatan boleh sangat terbatas, tatkala kekuatan iman telah memenuhi hati, tidak mustahil dapat mengalahkan yang muda-muda. Bagaimana para lanjut usia mampu sepanjang tahun lima waktu menghadiri shalat jamaah lima waktu, berpuasa sunnah non stop, sesuatu yang jarang para pemuda mampu melakukannya. Syumaith bin Ajlan berkata:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ جَعَلَ قُوَّةَ الْمُؤْمِنِ فِيْ قَلْبِهِ وَلَمْ يَجْعَلْهَا فِيْ أَعْضَائِهِ، أَلاَ تَرَوْنَ أَنَّ الشَّيْخَ يَكُوْنُ ضَعِيْفًا يَصُوْمُ الْهَوَاجِرَ وَيَقُوْمُ اللَّيْلَ وَالشَّابُّ يَعْجِزُ عَنْ ذَلِكَ.

Sesungguhnya Allah Azza wa Jallaawj menjadikan kekuatan orang mukmin ada pada hatinya, tidak pada anggota badannya. Tidakkah kalian melihat orang tua yang lemah, dia mampu berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari, sedangkan para pemuda justru tidak mampu melakukannya? (Shifat Ash-Shafwah 3/341).

Kita cukupkan kesalahan pertama ini. Ada begitu banyak kesalahan lainnya yang biasa dilakukan oleh kaum muslimin sepanjang bulan Ramadhan. Kami ambil salah satu di antaranya, sekaligus yang terakhir. Ia begitu penting untuk diketahui karena berhubungan erat dengan kesalahan pertama sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Rasyid Abdullah Al-Ghufaili. Beliau berkata, “Merasa tenang dan yakin bahwa amalan sepanjang bujan Ramadhan pasti diterima oleh Allah. Ini termasuk kesalahan terbesar, harus dihindari.

Bagaimana dengan kaum muslimin saat ini? Hari-hari awal memang jamaah meluber sampai ke jalanan. Setelah itu shafnya mengalami kemajuan. Agaknya proses penyaringan mulai terjadi. Jamaah lalu menyusut sampai jumlahnya seperti bulan-bulan biasa. Sebagian besarnya kembali ke habitatnya yang asli. Tapi saat Idul Fitri tiba semuanya tanpa kecuali ikut merayakannya. Seharusnya yang ‘berhak’ kalau boleh dibilang begitu, hanya mereka yang tetap mampu bertahan di masjid-masjid untuk menghidupkan malamnya sampai malam terakhir. Mengisi siang harinya dengan tilawah. Tapi anehnya, justru mereka yang tidak pernah muncul batang hidungnya di rumah Allah, tidak ikut berpuasa, tidak bersedekah, bahkan sama sekali tidak menyentuh Kitabullah menjadi orang yang paling sibuk dan bergairah merayakan hari kemenangan. Meyakini amalnya diterima dan layak dirayakan. Kemenangan yang mana? Amal mana yang katanya diterima?

Seorang ulama salaf, Imam Wuhaib bin Warad melihat kaumnya bersuka ria dengan tertawa-tawa melampaui batas merayakan hari Idul Fitri, dia lalu berkomentar:

إِنْ كَانَ هَؤُلاءِ تُقُبِّلَ مِنْهُمْ صِيَامُهُمْ ، فَمَا هَذَا فِعْلُ الشَّاكِرِينَ ، وَإِنْ كَانَ هَؤُلاءِ لَمْ يُتَقَبَّلْ مِنْهُمْ صِيَامُهُمْ ، فَمَا هَذَا فِعْلُ الْخَائِفِينَ

Jika mereka itu telah yakin diterima amalan puasanya, maka tidak seperti itu perilaku orang-orang yang bersyukur. Sedangkan jika mereka ragu-ragu tidak diterima amalannya, maka tidak seperti itu pula sikapnya orang-orang yang takut. (Kitâb Syukur, Imam Ibnu Abi Dunya)

Kita sebaiknya mencontoh para salafus shalih bagaimana mereka berusaha sekuat tenaga dan berdaya upaya menyempurnakan amal, membaguskannya sebaik mungkin, dan melakukannya secara teliti, setelah itu barulah berbaik sangka bahwa amalannya akan diterima. Itupun tetap terselip di dada mereka perasaan khawatir bahwa amalannya akan ditolak.

Al-Hasan Al-Basri berkata, “Allah menjadikan Ramadhan sebagai bulan pertandingan bagi makhluk-Nya. Mereka mendapat kesempatan berlomba di arena itu dengan ketaatannya menuju keridhaan-Nya. Hasilnya, sebagian berusaha menjadi yang terdepan sehingga meraih kesuksesan, sedang yang lainnya tertinggal di belakang lantas menemui kekalahan. Yang mengherankan, ada orang-orang yang bermain-main dan tertawa di hari perayaan suksesnya orang-orang yang baik, padahal mereka sendiri termasuk orang yang seharusnya menyesal karena gagal meraih kemenangan (asyik dalam tetap kebatilan).’’

Bahkan Ali ra, selalu mengiringi kepergian malam terakhir bulan Ramadhan tidak seperti orang sekarang, dia melantunkan salam perpisahannya dengan doa yang pilu: “Alangkah senangnya yang diterima amalannya lalu kita ucapkan selamat kepadanya. Siapakah yang ditolak amalannya lalu kita ucapkan bela sungkawa kepadanya? Wahai orang yang diterima amalannya, selamat untukmu. Wahai orang yang ditolak amalannya, musibah telah menimpamu.’’ (Wazhâ’if Ramadhân, Ibnu Rajab Al-Hanbali, hlm. 74.)

Sebaik apapun sambutan kita akan datangnya bulan Ramadhan dan bagaimana sempurnanya dalam mengisi hari-harinya, tetap saja kita tidak dapat meyakini diterima semuanya. Lantas bagaimana dengan mereka yang cuek dengan kehadirannya, menyembut dengan setengah hati, bahkan tidak suka, apakah pantas merayakan hari kemenangan? Di golongan manakah kita berada? Andalah yang tahu jawabannya.

f t g m